Rumah yang Berisik Bikin Anak Lambat Berpikir di Sekolah


 

img
(Foto: thinkstock)

Jakarta, Orangtua tentunya ingin memiliki anak yang berprestasi di sekolah. Keinginan ini sebaiknya ditunjang dengan kondisi rumah yang tenang, karena studi membuktikan bahwa anak yang dibesarkan di rumah yang berisik akan lebih lambat berpikir di sekolah.

Laporan penelitian Ofsted menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan kondisi rumah yang berisik, seperti suara televisi yang menyala terus menerus atau suara-suara berisik lainnya, mengalami keterlambatan kemampuan belajar di sekolah khususnya kemampuan bahasa.

“Rendahnya kemampuan bahasa anak di sekolah tidak hanya karena kurangnya percakapan di rumah, tetapi juga disebabkan oleh kebisingan yang terjadi terus menerus, seperti dari suara televisi atau suara orang berteriak-teriak,” ujar Christine Gilbert, kepala inspektur Ofsted, seperti dilansir Independent, Senin (15/11/2010).

Penelitian Ofsted ini awalnya dilakukan pada anak usia pra-sekolah, yaitu 3 dan 4 tahun yang telah mengikuti kelas taman bermain (play group).

“Orangtua yang salah mengkondisikan rumah dan membiarkan anak terpaku di depan televisi tanpa adanya komunikasi yang berkualitas, akhirnya dapat menghambat perkembangan otak dan prestasi anak,” jelas Christine.

Menurut Christine, kebanyakan anak dengan kondisi rumah yang bising tidak siap untuk belajar juga mengalami keterlambatan kemampuan komunikasi. Hal ini semakin diperburuk bila tak ada komunikasi yang baik antara orangtua dan anak di rumah.

“Tantangan dari laporan ini adalah mendorong para pembuat kebijakan dan guru untuk fokus pada perkembangan bahasa, dan menomorduakan pembelajaran yang lebih luas seperti keterampilan sosial, interpersonal dan fisik dasar yang sama-sama penting,” ujar Nansi Ellis, kepala kebijakan pendidikan di Association of Teachers and Lecturers, Inggris.

Menurutnya, belajar untuk membaca dan berkomunikasi melibatkan lebih dari sekedar suara dan huruf, tetapi juga melibatkan buku, menanggapi imajinatif cerita dan belajar bagaimana menggunakan informasi berbasis teks.

“Saya pikir apa yang terjadi karena lebih mudah untuk menempatkan anak-anak di depan televisi. Hal tersebut bukan waktu yang cukup berkualitas dan seharusnya orangtua bisa menyediakan waktu bercerita sebelum tidur. Anak dengan keluarga yang orangtuanya berpendidikan kebanyakan tidak memiliki masalah ini. Saya pikir itu karena orangtuanya menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka, dan bukan pada televisi,” jelas Ellis.

%d blogger menyukai ini: