Saatnyakah kita terapkan NCP ???


Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menangani aspek kuratif dan rehabilitatif disamping beberapa pelayanan kesehatan yang lain. Dalam pelaksanaannya dibagi dalam beberapa instalasi, diantaranya adalah instalasi gizi yang tidak hanya menangani manajemen sistem penyelenggaraan makanan, akan tetapi juga menangani asuhan gizi dan penelitian serta pengembangan. Pelayanan gizi rumah sakit meliputi empat hal penting yaitu asuhan Gizi rawat inap, asuhan gizi rawat jalan, penyelenggaraan makanan, dan penelitian dan pengembangan penerapan gizi.

Harus disadari bahwa gizi mempunyai peran yang tidak kecil terhadap tingkat kesembuhan dan lama perawatan pasien di rumah sakit yang akan berdampak pada meningkatnya biaya perawatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kurang gizi sedang pasien di rumah sakit mencapai 21 % sedangkan kurang gizi berat mencapai 10 %. (Detsky at.al, 1987) dan penyebab kematian utama balita di negara-negara berkembang adalah kurang gizi sebesar 54 %.

Masalah gizi pasien di rumah sakit akan berdampak pada banyak hal, yaitu gangguan syaraf, pembedahan, kanker, aids, kejiwaan, dan gangguan gastrointestinal. Pada sistem metabolism tubuh, kurang gizi berdampak pada beberapa perubahan penting diantaranya penurunan tingkat filtrasi pada glomerular yang terjadi di ginjal, gangguan pada pertahanan intestinal di lambung dan saluran cerna secara umum, perubahan pada farmakokinetik dan perubahan pada fungsi kardiak pada jantung.

Beberapa dampak diatas akan banyak merugikan berbagai pihak, tidak hanya pasien, tetapi pihak rumah sakit dan semua yang berperan dalam pelayanan di rumah sakit akan mendapat dampak dari masalah gizi ini.

Pelayan Gizi Terstandar

Ada beberapa model pelayanan gizi yang dapat diterapkan di rumah sakit dan beberapa institusi pelayanan gizi masyarakat, namun tidak semua model pelayanan tersebut terstandar. Minimal ada 3 model pelayanan gizi yang banyak dikembangkan di institusi pelayanan kesehatan.

Pertama, dibawah ini adalah diagram pelayanan gizi yang tidak direkomendasikan, dimana masing-masing profesi, yaitu dokter, perawat dan dietician (Ahli Gizi) menangani pasien masing-masing tanpa adanya hubungan dan koordinasi antar profesi dan seorang dietetsien menyiapkan makanan sesuai dengan pemahamannya tanpa adanya informasi keadaaan pasien dari dokter maupun perawat yang menanganinya.

Kedua, model pelayanan gizi yang kurang lebih sama dengan model pelayanan gizi yang pertama, tetapi bentuk pelayanan dilakukan dengan team yang dikenal dengan nutrition support team (NST) terdiri dari dokter, perawat, farmasis, dan dietician. Pada model kedua ini juga tidak ada koordinasi diantara masing-masing profesi dalam satu pelayanan terhadap satu pasien, akan tetapi sudah menerapkan proses pelayanan terstandar yang dikerjakan dalam satu team. Salah satu kelemahan dari model pelayanan ini adalah banyaknya profesi yang harus terlibat dalam satu pelayanan pasien. Penerapan model ini pada umumnya pada rumah sakit yang mempunyai SDM yang cukup banyak. Model ini sudah menerapkan proses asuhan gizi secara team yang dikenal dengan NCP.

Ketiga, adalah model yang juga direkomendasikan, dimana pelaksanaan pelayanan gizi dilakukan dalam satu team dengan melibatkan dokter, perawat dan dietician. Keterlibatan masing-masing profesi dalam model pelatanan ini sangat maksimal dan terjadi koordinasi antar profesi, sehingga dalam memutuskan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada pasien mempunyai tujuan yang sama.

Nutrition Care Process (NCP)

Ilmu gizi merupakan salah satu ilmu (scince) yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan penyakit dan sosial ekonomi, lingkungan dan budaya. Sejak tahun 1952, ilmu gizi sudah mulai banyak dikenal di kalangan pemerhati gizi di Indonesia dan tahun 1958 mulai dikenalkan istilah “empat sehat lima sempurna” oleh bapak gizi Indonesia, Poerwo Soedarmo yang selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu kesehatan secara umum dan kajian-kajian ilmiah tentang gizi dan kesehatan muncullah saat ini istilah “Gizi Seimbang” dengan 13 Pesan Gizi-nya sebagai panduan bagi masyarakat Indonesia.

Disamping perkembangan ilmu gizi sebagai scince, ternyata perkembangan ilmu gizi tidak hanya pada aspek ilmiahnya saja, akan tetapi perkembangan juga menyentuh aspek prosedural dalam menegakkan aspek-aspek gizi hubungannya dengan kesehatan dan penyakit. Jika di kalangan profesi gizi sebelum tahun 2003 bahkan sampai saat ini masih banyak menggunakan model SOAP (Subyektif, Obyektif, Assesment dan Planning) dalam menegakkan dan mencari berbagai masalah-masalah gizi pada individu maupun masyarakat, maka saat ini sudah mulai dikembangkan NCP (Nutrition Care Process) sebagai salah satu model dalam menegakkan masalah-masalah gizi yang dikenal dengan ND (Nutrition Diagnosis). Meskipun istilah NCP dan ND masih belum familier di telinga para profesi gizi, namun saat ini profesi gizi mau tidak mau dituntut untuk mengetahui dan melaksanakan model ini sebagai panduan sekaligus mengangkat performance profesi gizi.

NCP adalah suatu metoda problem solving yang sistematis, menggunakan cara berpikir kritis dalam membuat keputusan menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi dan memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.

Sesuai dengan definisinya, NCP merupakan cara pemecahan masalah gizi yang sangat efektif dan sistematis, karena proses yang ditempuh dalam NCP melalui tahapan-tahapan yang terstruktur dan sistematis, dimana untuk menentukan pemecahan masalah gizi harus melalui 4 tahap dan masing-masing tahapan sangat diperlukan pemikiran yang kritis dan mendalam.

Tahapan yang harus ditempuh meliputi Assesment Nutrisi ( Nutrition Assesment),

Diagnosa Nutrisi ( Nutrition Diagnosis), Intervensi Nutrisi ( Nutrition Intervention) dan Monitoring dan Evaluasi ( Nutrition Monitoring and Evaluation). Keempat tahapan ini merupakan tahapan yang harus ditempuh dalam menangani masalah gizi dan hal ini akan memberikan arah kepada ahli gizi kemana pasien/klien harus ditangani. Masing-masing tahapan harus dilalui secara terstruktur dan sistematik. Nutrition diagnosis tidak dapat ditegakkan tanpa utrition assessment. Nutrition ntervention juga tidak dapat dilaksanakan sebelum jelas nutrition diagnosisnya, dan seterusnya. Intinya empat tahapan itu itu dilaksanakan secara cermat dan kritis, sehingga menghasilkan sebuah penanganan masalah gizi yang tepat dan sesuai dengan masalahnya.

Nutrition assessment meliputi berbagai data yang diperlukan untuk menegakkan nutrition diagnosis, seperti data laboratorium, data antropometri, data behavior, data anamnesa gizi, dan lain-lain yang dapat dijadikan acuan untuk menegakkan nutrition diagnosis.

Penegakan nutrition diagnosis sangat mempengaruhi bentuk nutrition intervensi yang akan diberikan, apakah diet yang sesuai dan tepat untuk si pasien.

Langkah terakhir adalah monitoring dan evaluasi sebagai dasar untuk kembali melakukan assessment gizi dan seterusnya, sehingga pasien dapat pelayanan gizi yang tepat dan sesuai.



2 Tanggapan

  1. Perlu komitmen yang kuat untuk yang mengaku sebagai profesi gizi untuk menerapkan NCP tidak hanya di Rumah Sakit tapi juga di Puskesmas baik Puskesmas Rawat Inap maupun Puskesmas Rawat Jalan.

    • Perlu Orang yang bisa membuat komitmen baik di kabupaten maupun propinsi. Organisasi profesi sudah selayaknya mensosialisasikan penerapan NCP..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: