Indonesia masih adopsi konsep gizi usang


Bila berbicara soal gizi, biasanya yang teringat lebih dulu adalah ungkapan empat sehat lima sempurna (ESLS), tak mengherankan kalau sebagian besar masyarakat dan pelajar sudah hafal betul apa itu ESLS. Bahkan ESLS sudah melekat di benak mereka, sama hafalnya dengan lima dari falsafah Negara Indonesia, pancasila.

Jika ditanya soal ESLS, para pelajar dan sebagian besar masyarakat secara spontan akan mengucapkannya dengan lancar. Mereka mengetahui bahwa ESLS  merupakan empat kelompok yang terdiri dari sumber karbohidrat, lauk-pauk, sayur mayur, dan buah-buahan. Hidangan menjadi sempurna apabila dilengkapi dengan segelas susu.

Konsep gizi ESLS memang masih digunakan di Indonesia. Padahal konsep ESLS sebenarnya sudah out of date alias ketinggalan zaman.

Pasalnya, konsep ESLS tersebut dimunculkan pada 1940-an, saat itu ilmu tentang gizi baru saja lahir di amerika serikat (AS). Di negeri paman sam, ESLS sangat popular dengan istilah Basic Four dan Basic Five hingga tahu 1970-an.

Di Indonesia, popularitas ESLS tak lepas dari peran ahli gizi Indonesia, Prof. Poerwo soedarmo. Pada tahun 1950-an, Prof Poerwa soedarmo mengadopsi Basic Four dan Basic Five menjadi empat sehat 5 sempurna. Istilah ESLS pun semakin membumi di Indonesia.

Prof Soekirman, Guru besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa ESLS atau basic four dan basic five di negeri asalnya sudah tidak dipakai lagi seiring dengan perkembangan ilmu gizi. “bahkan di AS, basic Four dan basic Five sudah direvisi sejak 1970-an,” katanya saat wawancara di kampus Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta.

Di Indonesia, Justru anehnya masih kalangan yang bergelut di dunia kesehatan dan sebagian dokter masih menggunakan konsep ESLS. Konsep itu seakan menjadi konsep wajib dan keramat dalam penanganan gizi.

Konsep gizi di Indonesia menunjukan sudah ketinggalan 10 tahun jika dibandingkan dengan Negara lain.katanya.

Konsep ESLS sudah tidak dipakai lagi di AS sejak 1980. Faktanya setelah 20 tahun lebih konsep tersebut digembar-gemborkan, justru pola makan amerika buruk. Konsumsi daging, serealia, dan tepung, lemak, minyak, gula, dan garam meningkat. Sebaliknya konsumsi sayur dan buah menurun, jelas soekirman.

Akibatnya masyarakat AS tidak semakin sehat, tetapi justru menderita berbagai penyakit. Seiring perjalanan waktu, prevalensi penyakit obesitas, diabetes mellitus, jantung, tekanan darah tinggi, dan penyakit degeneratif terus meningkat.

Slogan Basic Four pun dinilai tidak memadai dan mendorong kearah yang lebih buruk. Pada tahun 1980, dengan dukungan pakar gizi, senator dari partai demockat dari south Dakota, George McGovern, menerbitkan pedoman baru yang dikenal sebagai Nutrition Guideline of Balance Diet Nutrition Guide.

Pada tahun 1992, Organisasi Pangan Dunia (FAO) pun mengajak para anggotanya mengikuti perubahan sebagaimana yang terjadi di amerika. Untuk mengkomunikasikan pedoman gizi tersebut memilih gambar piramida.

Logo piramida itu pun banyak digunakan oleh Negara lain. Soekirman menjelaskan bahwa piramida menggambarkan suatu wadah hidangan satu hari untuk satu orang. “dalam ruang-ruang itu diisi dengan gambar makanan menurut kelompok sumber zat gizinya, porsinya sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas setiap kelompok,” katanya.

Sebenarnya, Indonesia juga turut melakukan perubahan sebagaimana yang dianjurkan WHO. Pada tahun 1994, pemerintah menetapkan kebijakan terkait gizi dengan sebutan pedoman gizi seimbang sebagai media penyuluhan gizi dalam rencana pembangunan lima tahun (repelita) VI.

Sayangnya pedoman gizi seimbang kurang sosialisasi. Sebaliknya ESLS telah mengakar kuat di kalangan masyarakat termasuk pula kalangan pengambil kebijakan. Bahkan saat pakar gizi mencoba menyosialisasikan pedoman gizi seimbang justru dituduh sebagai bagian gerakan reformasi yang anti-orda baru.

Pergantian itu tidak ada kaitannya dengan soal reformasi. Upaya mengganti ESLS sudah ada sejak tahun 1994 dan tercantum dalam repelita VI, buku II halaman 191, “Tutur Soekirman.

Berbagai upaya sosialisasi pedoman gizi seimbang kembali digenjot kalangan akademisi terutama dari perguruan tinggi negeri terus melakukan seminar dan workshop terkait dengan hal itu.

%d blogger menyukai ini: